Pendekatan Pembelajaran

PROSES PEMBELAJARAN DI SLTP

Belajar mengajar merupakan dua kegiatan yang sejalan dan searah. Agar tujuan pengajaran tercapai dengan baik maka perlu adanya suatu proses belajar mengajar yang baik pula dari seluruh komponen yang terlibat, baik dari siswa, guru, metode, media, dan lainnya. Apabila proses belajar  matematika itu baik, dapat diharapkan hasil belajar peserta didik akan baik pula. Dengan proses belajar yang baik maka subjek yang belajar akan memahami matematika dengan baik pula dan ia dengan mudah mempelajari matematika selanjutnya. (Hudoyo ,1990: 7 dalam Fatmawati, 2004: 6)

Proses belajar mengajar di SLTP harus disesuaikan dengan taraf perkembangan intelektual siswa SLTP. Menurut Nasution dalam Fatmawati, 2004:6 siswa SLTP  yang masih tingkat permulaan (berusia 13- 14) berada pada kemampuan berpikir pada fase operasi kongkrit dan siswa pada akhir SLTP lambat laun beralih pada fase operasi formal.

A. PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

1. Pengertian Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching Dan Learning) adalah konsep yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunai nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari- hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yaitu: konstruktivisme (Contructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat belajar (Learning Community), permodelan (Modeling), refleksi (Reflection), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assesment). (Depdiknas, 2002: 5 dalam Fatmawati, 2004:6)

2. Tujuan Pembelajaran kontekstual

Pembelajaran kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna.(Depdiknas, 2002: 2 dalam Fatmawati, 2004:6)

3. Komponen Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual terdiri dari 7 komponen:

1)             Konstruktivisme (Contructivism)

Konstruktivisme (contructivism) merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit  yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong- konyong. Disini ‘strategi memperoleh’ lebih diutamakan dibanding ‘seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan’. Pembelajaran yang berlangsung tidak lagi menempatkan siswa sebagai individu yang pasif dan diam tetapi pengetahuan dibangun oleh mereka itu sendiri.

Pada umumnya filosofi ini sudah diterapkan dalam pembelajaran sehari- hari yaitu: ketika kita merancang pembelajaran dalam bentuk siswa bekerja, praktek mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, menulis karangan, mendemonstrasikan, menciptakan ide dan sebagainya.

2)            Menemukan (Inquiry)

Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis pendekatam kontekstual.

Wintarti 2002:1-2 dalam Fatmawati, 2004:7 dalam makalahnya yang berjudul “Inquiry dalam CTL dan Contoh Penerapannya pada Pembelajaran Matematika” menyatakan bahwa inkuiri diawali dengan kegiatan pengamatan dalam rangka untuk memahami suatu konsep. Pengamatan sebaiknya dilakukan terhadap benda nyata, yang ada di sekitar atau ada pada kehisupan sehari- hari. Hal yang diamati hendaknya merupakan obyek yang menarik bagi siswa. Guru perlu melakukan pengarahan pengamatan siswa dengan memberikan pertanyaan yang dapat mengarahkan pengamatan menuju konsep yang diinginkan selain itu siswa juga harus mencari tahu dengan bertanya antar teman (satu kelompok) atau kepada guru atau sumber yang lain. Kemudian siswa perlu menganalisa dari data- data yang ada agar dapat merumuskan teori.dengan demikian terjadi suatu siklus: Mengamati (observing)- bertanya(questioning)- menganalisa (analyzing)- merumuskan teori (theorizing). Semua tahap dalam proses inkuiri tersebut di atas merupakan kegiatan belajar dari siswa. Guru berperan untuk mengoptimalkan kegiatan tersebut pada proses belajar sebagai motivator, fasilitator, pengarah.

Inquiry tidak hanya diterapkan pada bidang IPA saja, tetapi bias diterapkan pada bidang studi : Bahasa Indonesia (Menemukan cara menulis paragraph deskriptif yang indah), PPKN (Membuat sendiri bagan silsilah raja), PPKN (Menemukan sendiri perilaku baik dan buruk WNI). Kata kunci dari strategi inkuiri adalah “siswa menemukan sendiri” (Depdiknas 2002:11-12 dalam Fatmawati, 2004:8)

3)            Bertanya (Questioning)

Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Hamper pada semua aktivitas belajar, questioning dapat diterapkan: antara siswa dangn siswa, siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan di kelas, dan sebagainya. Aktivitas bertanya bisa terjadi ketika siswa berdiskusi, bekerja dalam kelompok, ketika menemui kesulitan, ketika mangamati dan sebagainya.

Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:

  1. menggali informasi, baik administrasi maupun akademis
  2. mengecek pemahaman siswa
  3. membangkitkan respon kepada siswa
  4. mengatahui sejauh mana keingintahuan siswa
  5. mengetahui hal- hal yang sudah diketahui siswa
  6. memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
  7. untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa
  8. untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa

(Depdiknas, 2002: 13-14 dalam Fatmawati, 2004:8)

4)            masyarakat belajar (Learning Community)

konsep Learning communitymenyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain, hasil belajar diperoleh dari sharing antara teman, antar kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu.

Prakteknya dalam pembelajaran sehari- hari terwujud dalam:

  1. pembentukan kelompok kecil
  2. pembentukan kelompok besar
  3. mendatangkan ahli ke kelas
  4. bekerja dengan kelas sederajat
  5. bekerja kelompok dengan kelas di atasnya
  6. bekerja dengan masyarakat

(Depdiknas, 2002:15-16 dalam Fatmawati, 2004:9)

5)            permodelan (Modeling)

Maksud permodelan dalam pendekatan kontekstual adalah dalam sebuah pembelajaran ketrampilan atau pengetahuan tertentu, ada mode; yang bisa ditiru berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola dalam olahraga, contoh karya tulis, cara melafalkan bahasa inggris atau guru member contoh cara mengerjakan sesuatu.

Disini guru bukan satu- satunya model, model bias dirancang dengan melibatkan siswa, mendatangkan orang dari luar dan sebagainya.

6)            refleksi (Reflection)

Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau bepikir ke belakang tentang apa- apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima, kunci dari semua adalah bagaimana pengetahuan itu mengendap di benak siswa.

Realisasinya pada akhir penbelajaran guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi:

  1. pernyataan langsung tentang apa- apa yang diperolehnya hari itu
  2. catatan atau jurnal du buku siswa
  3. kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu
  4. diskusi
  5. hasil karya

(Depdiknas, 2002:18 dalam Fatmawati, 2004:10)

7)  penilaian sebenarnya (Authentic Assesment)

Assesment adalah prose pengumpulan berbagai data yang bias memberikan gambaran perkembangan belajar siswa.

Karakteristik Authentic Assesment:

  1. dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
  2. bias digunakan untuk formatif maupun sumatif
  3. yang diukur ketrampilan dan performasi, bukan mengingat fakta
  4. berkesinambungan
  5. terintegrasi
  6. dapat digunakan sebagai feed back

Hal- hal yang bias digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa:

  1. proyek/ kegiatan laporan
  2. PR
  3. Kuis dan hasil tes tertulis lainnya
  4. Karya siswa dan karya tulis
  5. Presentasi atau penampilan siswa
  6. Demonstrasi
  7. Laporan dan jurnal

(Depdiknas, 2002:19-20 dalam Fatmawati, 2004:10)

B. PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME

1. Teori Pendekatan Konstruktivisme

Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal yang berkaitan dengan pendekatan konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa disebut teori perkembagan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar yang dikemas dalam tahap perkembanga intelektual. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan.

Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivisme pertama (Dahar, 1989:159)  menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui penyerapan informasi baru dan penyusunan kembali struktur pikiran karena informasi baru tersebut. Lebih lanjut Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang melainkan melalui tindakan.

Jadi, Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Hal inilah yang menjadi dasar pendekatan konstruktivisme.

Dalam pembelajaran di kelas, penerapan pendekatan konstruktivisme  muncul dalam lima langkah pembelajaran menurut Zahorik (dalam Depdiknas,2003) yaitu :

  1. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada

Guru harus mengetahui pengetahuan awal yang dimiliki siswa, karena struktur-struktur pengetahuan awal yang sudah dimiliki siswa akan menjadi dasar sentuhan untuk mempelajari informasi baru. Struktur tersebut perlu dibangkitkan atau dibangun sebelum  informasi yang diberikan oleh  guru. Hal ini disampaikan oleh guru ketika menyampaikan apersepsi dan motivasi siswa.

  1. Pemerolehan pengetahuan baru dengan cara mempelajari secara keseluruuhan dulu kemudian memperhatikan detailnya.
  2. Pemahaman pengetahuan yaitu dengan cara menyusun (1) konsep sementara (hipotesis) , (2) melakukan sharing kepada orang lain agar dapat tanggapan (validasi) dan atas dasar tanggapan itu, (3) konsep tersebut direvisi dan dikembangkan
  3. Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman tersebut
  4. Melakukan refleksi terhadap strategi pembelajaran tersebut.

Dari kutipan diatas, seorang guru membutuhkan Rancangan Pembelajaran (RP) sehingga pengelolaan pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme akan terlaksana. RP pada pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancanng guru, berisikan skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswa. (Depdiknas,2002:22)

2. Pembelajaran Matematika dengan pendekatan Konstruktivisme

Pada pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme guru merancang agar proses belajar terpusat pada siswa, ini berarti kegiatan siswa diarahkan dengan memanfaatkan berbagai sumber dan media belajar yang ada. Contoh salah satu media nya adalah Lembar Kerja Siswa (LKS) yang membantu guru dalam mengelola pembelajaran.

LKS berisikan langakah-langkah dalam menemukan konsep dan prinsip dari materi yang dipelajari dan disertai dengan soal-soal yang disusun secara variatif sehingga siswa terarah dan mudah memahami materi. LKS yang dibuat dengan perencanaan yang baik akan membantu guru dalam pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme. Penggunaan LKS ini merupakan bagian dari pelaksanan pembelajaran dengan pendekatan kontruktivisme.

Berdasarkan uraian diatas, pelaksanaan uji coba pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme dibagi dalam tiga tahap yaitu;

1)  Pendahuluan, berisikan aspek :

  1. Menyampaikan tujuan pembelajaran
  2. Memotivasi siswa melalui kegiatan apersepsi

2)  Kegiatan Inti, berisikan aspek:

  1. Mengarahkan dan membimbing aktivitas siswa dalam hal:

(1)   Pengaktifan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa

(2)   Melakukan percobaan menemukan rumus

(3)   Mengajukan pendapat atau pernyataan

(4)   Mengerjakan LKS

(5)   Diskusi kelas

(6)   Menyampaikan konsep/materi

(7)   Melaksanakan komponen pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme

3)    Penutup

a. Membimbing siswa menyimpulkan materi pelajaran

b. Memberikan pekerjaan rumah

c. Menyampaikan informasi tentang pertemuan selanjutnya.

3. Kemampuan Siswa Membangun Konsep

Pendekatan konstruktivisme dimaksudkan sebagai upaya merintis pembelajaran matematika yang bermakna sehingga menciptaka kelas yang produktif. Pendekatan Konstruktivisme yang digunakan pada pelaksanaan pembelajaran harus dapat membuat siswa mampu membangun pengetahuannya sendiri dan berinteraksi dengan lingkungan. Konsekuensinya adanya perubahan tingkah laku dan hasil belajar siswa.

Adapun komponen yang harus dilakukan untuk membuat siswa mengkonstrusi pengetahuannya sendiri menurut pendekatan konstruktivisme adalah sebagai berikut:

1)   Mendorong siswa agar mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep yang akan dibahas. Selanjutnya siswa diberi kesempatan untuk mengkomunikaskan dan mengilustrasikan pemahamannya tentang konsep tersebut.

2)   Memberi kesempatan siswa untuk menyelidiki dan menemukan konsep melalui pengumpulan, pengorganisasian, dan penginterpretasian data dalam kegiatan yang telah dirancang oleh guru. Secara keseluruha pada langkah ini akan terpenuhi rasa keingintahuan siswa tentang fenomena dalam lingkungannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s